BANYAK ANAK BANYAK REJEKI
Tangis bayi memecah kesunyian malam. Suaranya seperti kentongan memangggil meminta perhatian orang-orang yang mendengarnya. “ Inilah aku manusia baru di muka bumi ini” Mungkin begitu kalau tangisan itu dirubah menjadi suatu kalimat. Selalu menyertai setiap kelahiran. Kebetulan ini adalah bayi laki-laki, suaranya keras dan kencang.
Kelahiran bayi yang kesebelas lahir dari rahim Yu Manisah. Anak pertama , kedua, ketiga sampai keempat lelaki, kelima sampai kesembilan perempuan, kesepuluh dan kesebelas laki-laki. Semua lahir sempurna.
Kelahiran bayi yang kesebelas lahir dari rahim Yu Manisah. Anak pertama , kedua, ketiga sampai keempat lelaki, kelima sampai kesembilan perempuan, kesepuluh dan kesebelas laki-laki. Semua lahir sempurna.
Ketika lahir anak yang kelima, para tetangga mengira itu anak yang paling bontot. Karena anak yang kesatu sampai keempat laki-laki semua, sedang anak yang kelima ini perempuan. “ Wah jadi punya anak perempuan ya yu,” Begitu komentar tetangga. Yu Manisah tampak bangga dengan kelahiran anak perempuannya, tersenyum sambil mengayun-ayun bayinya.sebagai wanita, dia memang mengharapkan anak perempuan untuk membantunya dimasa tuanya kelak.Tak tahunya masih disusul bontot-bontot berikutnya.
Beberapa kali petugas penyuluhan KB dari desa mendatangi Yu Manisah. “Coba yu, sampean pakai alat kontrasepsi ya, biar kelahiran anaknya tidak terlalu rapat,” Petugas itu mencoba membujuk yu manisah. Akhirnya dia menuruti permintaan petugas itu. Dia mencoba menggunakan alat kontrasepsi dari pil, spiral, kondom, sudah dicoba semuanya. Tapi tak satupun yang cocok. Tubuhnya jadi kurus kering. Satu-satunya alat kontrasepsi yang cocok adalah kondom. Tapi bagi yu manisah dan suaminya, alat itu bikin ribet.
“Mak,mak makan mak” Anak kelima yang sedari tadi bermain di depan rumah memanggil-manggil. Belum lagi mengambilkan makan, anak ketujuh minta jajan, anak ke delapan minta minum. Beruntung anak kesembilan dan sepuluh sedang tidur.
Ketika anak-anak masih kecil seperti itu, yu manisah benar-benar penghasilan mengandalkan suaminya sebagai buruh, sementara anaknya yang psling besar belum bisa membantu. Penghasilan sebagai buruh tentu tak seberapa, hanya cukup untuk membeli beras dan sayuran. Memang harus pintar pintar membagi. Bayangkan penghasilan itu dibagi untuk tiga belas orang. Untuk membeli pakaian, hanya setahun sekali dia membelikan baju untuk anak-anaknya, saat lebaran. Untuk pakaian harian, kakak-kakak memberikan kepada adik-adiknya, maksudnya baju kakak dipakai oleh adik-adik mereka.adik terkecil memakai baju kakaknya yang sudah tidak muat. Satu baju bisa berumur tujuh tahun. Untuk masalah ini, yu manisah memang rajin membersihkan dan menyimpan baju anak-anaknya. Sehingga hal ini bisa membantu dalam pengelolaan keuangannya yang sangat minim.
Ini agak mengagetkan. Seringkali dari rumah yu manisah terdengar suara ribut, tinggi keluar dari mulut suami isteri ini. Entahlah masalah apa yang mereka hadapi, kami para tetangga cukup menjadi pendengar yang baik. Selama tangan mereka terjaga dari melakukan pemukulan, kami akan diam. Suara itu seperti suara ayam berkokok saling bersahutan. Ah bumbu dalam berkeluarga. Itu masalah mereka, selama tidak ada yang minta tolong tetangga akan diam. Bukan berarti tak peduli. Tiap keluarga punya cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah mereka. Dan begitulah cara yu manisah bersama suaminya menyelesaikan masalahnya.
Anehnya beberapa bulan sesudah pertengkaran-pertengkaran itu memuncak, yu manisah muntah-muntah. Suaminya sibuk kesana-kemari mencarikan minyak goreng untuk ngeroki istrinya. Khawatir kalau-kalau istrinya masuk angin.Jika sudah begitu pertengkaran jarang lagi terjadi. Mereka tambah mesra. Kadang terlihat suaminya minta dibersihkan rambut kepalanya, kadang sebaliknya.
Para tetangga sudah mafhum. Suara muntah-muntah itu adalah pertanda sedang terjadi proses pertumbuhan janin dalam rahim seorang wanita. Tentu itu akibat “perundingan damai” yang sudah dilakukan yu manisah dan suaminya. Perbedaan-perbedaan memuncak telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kerinduan dua manusia berlainan jenis. Pertanda itu bagai nada yang selalu terdengar dan tidak asing lagi ditelinga.
Disaat banyak wanita merasa kesulitan memiliki anak meski berbagai cara sudah dilakukan, dari yang paling murah sampai cara yang sangat mahal, yu manisah begitu mudah mendapatkannya. Dia merasa begitu beruntung memliki sebelas anak. Pikirannya sungguh sederhana,tugas wanita adalah melahirkan.
Yang lebih penting sekarang, bagaimana anak-anak itu bisa makan kenyang, meski dengan sayur dan lauk seadanya. Anak terbesar dan yangkedua harus sering mengalah jika tidak kebagian sayur atau lauk. Cukup dengan sambal, nasi sepiring bisa habis tak tersisa. Kadang-kadang saja suaminya membawa pulang nasi dan lauk daging, jika kebetulan ada pekerjaan membakar genteng. Karena harus begadang menjaga api semalaman, juragannya memberinya doping sate kambing atau paling tidak daging ayam. Itu akan jadi makanan mewah yang akan diperebutkan oleh anak-anak.
Waktu makan malam memang menjadi saat paling menyenangkan buat anak-anak yu manisah. Duduk membuat lingkaran kecil, persis seperti mau kenduri. Masing-masing menghadap sepiring nasi, kemudian melahap sesuap demi sesuap. Mengisi mulut mereka hingga penuh nasi sambil tetap terus mengunyah. Seperti lomba makan cepat. Siapa cepat menyelesaikan jatahnya, dia berhak untuk mengambil jatah adiknya, meski yu manisah sudah mencoba membagi secara adil sesuai besar kecilnya.
Mengurus sebelas anak tentu bukan hal mudah bagi kebanyakan orang, terlebih harus mengurus sendiri segala keperluan. Tiadak ada pembantu. Bagi Yu manisah, segalanya tampak mudah.
” Kenapa harus takut atau cemas terhadap masa depan mereka?” Bukankah setiap anak membawa rejeki mereka masing-masing? Yu manisah percaya betul, slogan banyak anak banyak rejeki.
By Kang wira 022010
Komentar
Posting Komentar